The Black Phone (2022) Film Review - Movie Corner

The Black Phone (2022) Film Review

Review Film The Black Phone (2022)

Salah satu film horor yang paling saya tunggu di tahun ini akhirnya rilis juga. Setelah melihat trailer-nya beberapa bulan lalu, saya menaruh ekspektasi yang cukup besar pada film The Black Phone, sebab dari trailer terlihat bahwa film ini akan menyajikan sebuah konsep horor thriller dengan bumbu supranatural yang tentu akan sangat menarik buat dilihat.

Scott Derrickson yang ditunjuk sebagai sutradara bagi film ini juga sudah dikenal lihai dalam membuat film horor yang mencekam, seperti contohnya film Sinister dan Poltergeist yang berhasil memacu jantung saya di sepanjang durasi filmnya. Nah, akankah formulanya tersebut masih digunakan di film The Black Phone ini? Hmmm, buat tau jawabannya, simak ulasan filmnya sampai habis yaa.

Film The Black Phone ini mengisahkan tentang seorang anak laki - laki yang harus melepaskan diri dari The Grabber dengan bantuan korban - korban sebelumnya melalui sebuah telepon hitam. Ceritanya memang dibuat sangat simple, kita hanya akan diajak melihat usaha anak laki - laki yang memanfaatkan indra keenam miliknya untuk melepaskan diri dari ruangan penyekapan milik The Grabber.

Konsep cerita film The Black Phone ini sekilas terlihat sangat mirip dengan film IT, hanya saja terlihat lebih realistis dan masuk akal. Penggunaan kekuatan supranatural melalui anak indigo yang tampil di film ini juga diperlihatkan dengan sangat bagus, media yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan makhluk halus konsepnya dijelaskan dengan detail, dan hal tersebut tetap dipertahankan sampai akhir film. Salah satu contohnya yaitu sang karakter utama yang menggunakan telepon hitam untuk dapat berbicara dengan para korban The Grabber sebelumnya.

Karakter The Grabber yang menjadi villain utama dalam film ini juga berhasil membuat saya terkesima waktu menontonnya, khususnya terlihat pada desain topengnya yang sangat unik. Topeng milik The Grabber ini sukses membuat kesan seremnya sangat terasa. Desainnya yang dapat dipisah di 2 bagian, bagian atas dan bawah, membuat penggunaannya lebih bervariasi, jadi kesannya nggak monoton gitu waktu ngelihatnya. Akting Ethan Hawke yang memerankan The Grabber juga patut diacungi jempol. Walaupun dengan durasi tampilnya yang minim, Ethan Hawke sudah berhasil membuat karakter The Grabber tampak sangar dan menakutkan. Dialognya yang tidak terlalu bertele - tele seakan menggambarkan kalau The Grabber ini tidak ingin terburu - burur dalam membunuh para korbannya.

Bagaimana cara karakter dalam memanfaatkan indra keenamnya juga berhasil ditampilkan dengan sangat baik. Saya paling suka dengan cara Gwen, adik dari sang karakter utama, yang mendapatkan vision melalui mimpinya. Berbagai vision yang telah dilihat Gwen tersebut kemudian digunakan untuk membantu proses investigasi para polisi, sehingga membuat peran karakter indigo dalam film ini sangat berguna, sekaligus terlihat realistis, nggak hanya buat ngelihat hantu doang.

Treatment horor ala Scott Derrickson juga masih diterapkan dalam beberapa scene di film ini, salah satunya terlihat saat menampilkan wajah para korban The Grabbler yang mendadak muncul dalam satu frame dengan backsound yang mendadak naik, sama persis dengan apa yang dilakukannya di film Sinister dulu. Akan tetapi, sayangnya atmosfer horor yang ada di film ini terasa sangat minim, tertimpa dengan genre thriller dan gore yang sudah mendominasi sejak awal.

Oleh karena itu, bagi kalian pecinta film horor, mungkin The Black Phone ini terlihat mengecewakan, sebab kesan horornya memang hampir tidak berasa sama sekali. Walaupun di beberapa scene memang bisa dikatakan sebagai scene horor, namun itu belum cukup untuk membuat penontonnya merasa takut. Scott Derrickson sepertinya memang lebih menekankan film ini ke genre thriller yang dapat jelas terlihat jelas dari penekanan konflik antara sang karakter utama dengan The Grabber.

Kurangnya pendalaman karakter The Grabber juga menjadi kelemahan yang ada dalam film ini. Padahal, menurut saya The Grabber menjadi sosok yang paling berpotensi untuk menjadi karakter paling ikonik dari film ini. Namun karena kurangnya penggambaran mengenai asal usul, serta motif dari seluruh tindakannya, membuat banyak sekali pertanyaan yang masih belum terjawab mengenai sosok The Grabbler ini. Mungkin saja besok kedepannya bakalan dibikinin film solo yang khusus menceritakan asal usul The Grabber, siapa tau kan?


SCORE

8/10

Overall, The Black Phone merupakan film horor thriller yang benar - benar tampil beda dari kebanyakan film horor thriller lainnya. Konsep ceritanya yang sedikit dibumbui dengan genre mystery dan supranatural berhasil membuat film ini terasa menegangkan, sekaligus membuat kalian selalu penasaran dengan berbagai langkah yang akan dilakukan oleh sang karakter utama untuk bisa lepas dari The Grabber.

Mungkin film ini tidak cukup menakutkan, namun setidaknya The Black Phone sudah berhasil membuat saya yang menontonnya merasa tegang dan cemas. Greget aja gitu rasanya waktu ngelihat sang karakter utamanya saat berusaha berjuang buat melarikan diri dari ruang penyekapan The Grabber.


TRAILER


***

Sekian review dari saya mengenai film The Black Phone. Jika ada kritik maupun saran dari kalian, silahkan tulis saja di kolom komentar.

Jangan lupa untuk selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan konten review film menarik lainnya.

Terima kasih.

0 Response to "The Black Phone (2022) Film Review"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel