Review Film Janur Ireng, Perang Santet Prequel Film Sewu Dino

Review Film Janur Ireng

Gelombang film horor Indonesia beberapa tahun terakhir memang sedang berada di puncaknya, tetapi hanya sedikit yang berhasil membangun “semesta cerita” sekuat Sewu Dino. 

Setelah sukses besar lewat kisah Sewu Dino yang viral dari thread SimpleMan, kini hadir Janur Ireng sebagai prekuel yang membuka lapisan baru dari teror keluarga Atmojo dan Kuncoro.

Disutradarai kembali oleh Kimo Stamboel, film ini bukan sekadar “tambahan cerita”, melainkan fondasi penting yang menjelaskan asal - usul santet yang terjadi di film Sewu Dino. 


SINOPSIS

Film ini berfokus pada Sabdo dan Intan, dua kakak beradik yang hidup sederhana hingga sebuah tragedi mengubah hidup mereka. Setelah rumah mereka terbakar, mereka dibawa oleh Arjo Kuncoro, kerabat yang tampak baik hati, tetapi ternyata menyimpan niat jahat dibaliknya.

Dari sinilah film ini mulai masuk ke dunia santet, perebutan kekuasaan keluarga, dan praktik ilmu hitam yang nantinya menjadi akar dari tragedi di film Sewu Dino. 


PROS

1. Atmosfer Horor yang Lebih Gelap

Kalau Sewu Dino terkenal karena atmosfer mistis dan ritual santetnya yang perlahan bikin penontonnya deg - deg an, maka Janur Ireng ini adalah versi upgrade-nya.

Janur Ireng terasa lebih kelam, depresif, dan lebih sadis dalam menampilkan penderitaan karakternya. Tidak hanya mengandalkan jumpscare, Kimo Stamboel memainkan horor psikologis lewat konflik keluarga dan rasa putus asa para tokohnya.

Nuansa ritual santetnya juga dibuat lebih pekat. Musik latar, pencahayaan redup, serta detail properti ritual membuat film ini terasa dekat dengan folklore lokal yang menyeramkan.

2. Berhasil Memberikan Jawaban Atas Beragam Misteri di film Sewu Dino

Jujur saja inilah yang membuat film ini berhasil menyita banyak perhatian. Sebagai prekuel dari Sewu Dino, Janur Ireng mampu menyajikan cerita yang fresh dan tetap misterius, meski latar waktunya hanya sekitar enam tahun sebelum kejadian di Sewu Dino. 

Beragam plot hole di film Sewu Dino akhirnya dijelaskan di Janur Ireng ini. Contohnya tentang bagaimana awal mula perselisihan keluarga Kuncoro dan Atmojo, kemunculan anggota Trah Pitu, hingga alasan mengapa keluarga Kuncoro akhirnya melakukan santet sewu dino kepada Dela Atmojo.

3. Perang Santetnya Lebih Brutal

Intan yang sedang dirasuki oleh Senggarturi
Intan yang sedang dirasuki oleh Senggarturi

Beda jauh dari film Sewu Dino yang fokusnya menyembuhkan Dela Atmojo dari santet, kalau di Janur Ireng ini kalian benar - benar disuguhkan perang santet yang sesungguhnya.

Baik itu keluarga Atmojo ataupun Kuncoro, keduanya saling serang dengan saling mengirim santet. Udah gitu kematiannya pun lebih tragis, ada yang dicongkel matanya, dicabut jantungnya, bahkan nanti di penghujung film ada yang mirip kayak wabah zombie. 

Yaa maklum juga sih soalnya Kimo Stamboel juga abis bikin film zombie, jadi masih kebawa kayaknya ahahaha.

4. Karakternya yang Kuat

Salah satu kekuatan film ini ada pada karakter antagonisnya. Sosok Arjo Kuncoro disini digambarkan sebagai seorang kepala keluarga yang manipulatif, licik, dan sangat menyeramkan, meski dia bukanlah orang yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan iblis Bokolono yang keluarga Kuncoro gunakan untuk melakukan santet.

Justru keponakannya, Sabdo Kuncoro-lah yang memiliki kekuatan itu. Tapi berbeda jauh dari Arjo Kuncoro, Sabdo sama sekali tidak memiliki motivasi yang kuat dan malah hanya dijadikan alat oleh Arjo Kuncoro. 

Konflik internal antar anggota keluarga Kuncoro cukup kompleks dan kuat sehingga penonton bisa memahami alasan di balik keputusan - keputusan ekstrem yang diambil oleh para karakternya.


CONS

1. Tempo awal film agak lambat

Fase awal dari film Janur Ireng memang dibuat agak lambat, sebab ada banyak sekali karakter baru yang diperkenalkan di film ini, khususnya Arjo Kuncoro yang punya peran penting di film ini.

Tapi tenang, walaupun temponya agak lambat di awal, mulai pertengahan hingga akhir filmnya kalian bakal dibuat tegang terus kok. 

Film Janur Ireng juga gak banyak nampilin jumpscare, Kimo Stamboel dari dulu emang selalu fokus di genre thriller, dan saya suka bagaimana dia bisa konsisten sampai sekarang buat bikin thriller yang bagus.

2. Karakter Sabdo Kuncoro yang Terlalu Polos

Karakter Sabdo Kuncoro
Sabdo Kuncoro yang diperangkan oleh Marthino Lio

Ada beberapa tingkah Sabdo Kuncoro di film Janur Ireng ini yang menurut saya sangat nggak masuk akal. Yang pertama udah pasti karena Bokolono, iblis yang dimiliki oleh keluarga Kuncoro.

Di awal film aja dia udah di teror sama Bokolono, yakali dia nggak nyadar kalau pamannya sendiri yang ngirim iblis itu biar dia sama adiknya bisa pindah ke rumahnya Arjo Kuncoro.

Udah gitu nanti dia juga polos banget dateng ke keluarga Atmojo, padahal dia sendiri sudah sadar kalau para bawahan keluarga Atmojo lah yang menjadi target Bokolono.

Yakali gak kepikiran kalau keluarga Atmojo lah yang ngirim senggarturi buat ngerasukin adeknya.

Pokoknya Sabdo Kuncoro di film ini pola pikirnya masih polos banget, dia kayak bingung mau mihak yang mana, dan akhirnya malah dia sendiri lah yang dipermainkan.

Tapi yaa mungkin emang sengaja dibikin gitu sih, ga terlalu krusial juga kok sebenarnya, cuma beberapa tingkahnya bikin gemes aja ahahahaha.


TRAILER



SCORE

8/10

Janur Ireng bukan sekadar film prekuel biasa. Film ini berhasil memperluas dunia Sewu Dino dengan tema yang lebih gelap dan emosional.

Bagi penggemar Sewu Dino, film ini terasa seperti potongan puzzle yang akhirnya melengkapi misteri besar tentang santet, keluarga, dan kutukan di antara keluarga Kuncoro dan Atmojo yang di film sebelumnya hanya disinggung sekilas.

Kalau Sewu Dino membuat penonton takut karena ritual santetnya, maka Janur Ireng membuat kalian tahu bagaimana awal dari teror santet itu berasal.

***

Sekian Review film Janur Ireng dari saya.

Buat kalian yang udah nonton filmnya jangan lupa kasih pendapat kalian tentang film ini di kolom komentar yaa.

Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi menarik seputar film ataupun series lainnya.

Terima kasih.

Dava

Hanya seorang manusia biasa yang hobi nonton film dan main game

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form