Review Film Lee Cronin’s The Mummy (2026), Remake yang Brutal dan Bikin Deg - Deg an!

Review Film The Mummy

Buat para fans film horor, nama Lee Cronin pasti sudah tidak asing di telinga kalian. Dia adalah orang dibalik sadisnya film Evil Dead Rise di tahun 2023 lalu. 

Dan kini, sutradara asal Irlandia ini kembali dengan proyek yang tidak kalah ambisius, yaitu menghidupkan kembali franchise film The Mummy yang udah lama terbengkalai.

Tapi, hapus dulu memori kalian tentang The Mummy-nya Brendan Fraser atau versinya Tom Cruise di tahun 2017 lalu. Sebab di tangan Lee Cronin, The Mummy bukan lagi film action adventure tentang para penjarah makam, melainkan murni horor slasher mengenai teror dari sebuah entitas kuno yang sudah ada bahkan sebelum manusia turun ke bumi.

Namun akankah film ini berhasil melampaui film The Mummy sebelumnya? Simak pembahasannya berikut:


A. SINOPSIS

Lee Cronin's The Mummy memfokuskan ceritanya kepada Charlie Cannon (Jack Reynor), seorang jurnalis investigasi TV di Kairo yang hidup bersama istri dan kedua anaknya yang bernama Sebastian dan Katie. 

Keluarga kecilnya hidup dengan bahagia, sampai suatu ketika anak mereka yang paling kecil, yaitu Katie, mendadak menghilang tanpa jejak.

Charlie pun sangat terguncang, sebab dia lah yang ada di rumah waktu Katie menghilang. Hubungannya dengan Larissa (istrinya) pun ikut memudar, keluarga yang sebelumnya tampak harmonis, kini diambang kehancuran.

Setelah 8 tahun tak mendapatkan kabar dari keberadaan putrinya, sebuah keajaiban pun terjadi. Katie ditemukan dalam keadaan masih hidup. Tubuhnya ditemukan di dalam sarkofagus tua yang jatuh bersamaan dengan pesawat yang mengangkutnya.

Namun, momen kembalinya sang anak yang seharusnya penuh haru berubah menjadi melapetaka setelah beragam hal janggal mulai bermunculan tepat setelah Katie dibawa pulang ke rumah bersama keluarganya.

Apakah Katie yang mereka bawa pulang adalah anak mereka yang dulu menghilang? Atau justru entitas jahat lah yang kini hidup seatap dengan mereka? Tonton sendiri filmnya biar tau jawabannya.


PROS

1. Horor-nya Serem Parah

Horor yang Serem

Jika disuruh jelasin hal yang paling menonjol dari film ini, itu adalah horor-nya.

Masih membawa ciri khasnya yang suka ngasih banyak adegan ngilu dan menegangkan, Lee Cronin merubah drastis franchise The Mummy yang dikenal sangat kental dengan elemen action dan adventure.

Kini di tangannya The Mummy tampil seperti sekuel dari Evil Dead Rise yang kejam dan penuh adegan berdarah.

Kalau ekspektasi kalian masih kayak film - film The Mummy sebelumnya, sebaiknya siap - siap aja buat kecewa, sebab film berdurasi 133 menit ini murni membawa genre horor  slasher yang akan menyiksa mental dan batin kalian dari awal sampai akhir, pengen buru - buru minta jeda buat nafas.

2. Terornya Kreatif, Nggak Nampilin Jumpscare Murahan

Udah basi lah ya kalau ngomongin jumpscare di film horor. Di era sekarang, film horor yang tampak serem justru film yang minim menampilkan jumpscare. Pendekatan horor-nya harus selalu berbeda dan fresh biar penonton nggak bisa menerka kapan momen menakutkannya akan muncul.

Dan untungnya, Lee Cronin disini paham betul bagaimana cara membuat penontonnya takut dengan pendekatan yang berbeda dari mayoritas film horor lain. Contoh kecilnya seperti scene saat Larissa sedang berusaha untuk memotong kuku dari Katie.

Karena kukunya sangat tebal dan panjang, secara tak sengaja dia justru malah menarik kuku hingga sampai ke kulit - kulitnya. Saya yang nonton aja langsung ikut ngilu lihatnya, langsung ngerasa gak nyaman pengen udahan.

Padahal adegannya simple, cuma motong kuku doang.

3. Penampilan Natalie Grace yang Memukau

Natalie Grace sebagai Katie
Natalie Grace sebagai Katie

Pujian patut diberikan kepada Natalie Grace yang berperan sebagai Katie di film ini. Dia mampu memberikan transisi yang epik dari anak yang polos menjadi wadah entitas jahat yang manipulatif dan tak bisa diprediksi.

Tatapan kosongnya menyimpan banyak sekali misteri, membuat penonton selalu bimbang apakah dia sebenarnya masih punya sisi manusia, atau sudah sepenuhnya dikuasai oleh entitas jahat.

Dengan usianya yang masih muda tapi udah bisa ngeksekusi karakter se-kompleks ini udah cukup membuktikan bakatnya di dunia akting. Moga aja kedepannya dapet peran yang bagus lagi biar potensinya makin kelihatan.

4. Latar Mesir Bukan Pajangan Doang

Biasanya di film The Mummy latar Mesir tuh kayak dijadiin pajangan doang.

Tempatnya doang di Mesir tapi sepanjang film karakternya ngobrol pakai bahasa inggris.

Nah, nampaknya Lee Cronin menyadari hal tersebut, makanya di filmnya ini ada banyak sekali unsur Mesir yang ditampilkan. Dari hal yang paling simple, karakter - karakter pendukung yang tampil memang tampak seperti orang dari Mesir.

Yang bikin amaze lagi, banyak dialog antar karakternya yang dilakukan dengan bahasa arab, jadi kerasa banget nuansa timur tengahnya.


CONS

1. Masih Punya Banyak Plot Hole

Formula slasher penuh darah Lee Cronin di film Evil Dead Rise memang tampak sangat padu. 

Tapi sayangnya, di The Mummy ini formula tersebut kurang cocok digunakan. Kenapa? Karena sejak dulu citra dari franchise film The Mummy itu selalu action adventure, yang menceritakan petualangan para penjarah makam kuno di Mesir.

The Mummy selalu menitik-beratkan sisi historis, khususnya tentang piramid; tentang jebakan - jebakan yang ada di dalamnya, kutukan kuno yang siap mengintai saat makam di dalam piramid dijarah, dll.

Tapi, di Lee Cronin's The Mummy ini sisi historis dan legenda tentang piramid itu tidak begitu dibahas. Latar belakang iblisnya sangat singkat. Ritual - ritual yang dipakai juga masih kurang believable karena masih terlihat sangat simple dan kurang menampilkan sisi magis dan mistisnya.

Bagi saya The Mummy ini tampak seperti film Evil Dead Rise versi Mesir, soalnya ada banyak sekali treatment yang sama dari Lee Cronin yang terlihat jelas diantara kedua film buatannya tersebut.


B. TRAILER



C. SCORE

8/10

Lee Cronin's The Mummy tergolong sebagai sebuah remake yang berani. Film ini mengabaikan segala unsur yang sebelumnya melekat dalam franchise The Mummy, lalu membungkusnya lagi dengan bumbu horor slasher yang brutal ala Evil Dead Rise.

Bagi pecinta film horor slasher, Lee Cronin's The Mummy pasti tampak sangat menyenangkan. Tapi di mata penikmat film - film The Mummy sebelumnya, elemen The Mummy di film ini pasti bakal terasa sangat kurang. Baik itu dari segi cerita, konflik, sampai ending-nya, kayak ada bagian yang hilang aja gitu.

Tapi ya balik lagi, itu semua soal selera, bukan? 

Overall, Lee Cronin's The Mummy ini masih memuaskan kok, terornya serem, horor-nya dapet, dan sukses bikin nutup mata waktu nonton.

Tapi bagaimana nih menurut kalian? Apakah kalian lebih suka film The Mummy yang full action, atau yang full horor kayak gini? Tulis pendapat kalian di kolom komentar.

***

Sekian pembahasan mengenai review film Lee Cronin's The Mummy (2026) dari saya.

Perlu diingat bahwa seluruh isi postingan ini hanya berasal dari opini saya pribadi. Oleh karena itu, jika ada dari kalian yang punya opini lain tentang film, langsung saja beritahu saya di kolom komentar.

Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi seputar film ataupun series menarik lainnya.

Terima kasih.

Dava

Hanya seorang manusia biasa yang hobi nonton film dan main game

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form