Lewat sutradara Josh Safdie yang terkenal dengan film
Uncut Gems; Marty Supreme ini hadir dengan ritme cepat khasnya, lengkap dengan konfliknya yang
kompleks dan tak terduga.
Diproduksi oleh A24 dan dibintangi oleh si emas Hollywood, Timothée
Chalamet, Marty Supreme menyajikan pengalaman menonton film yang
berbeda dari film olahraga kebanyakan.
Lalu, apakah film Marty Supreme ini layak buat kalian tonton? Untuk
mengetahui jawabannya, simak ulasannya berikut:
A. SINOPSIS
Marty Supreme mengisahkan tentang Marty (diperankan oleh Timothée
Chalamet), seorang pemain tenis meja berbakat yang ingin menjuarai kejuaraan
dunia. Baginya, tenis meja bukanlah soal memukul bola saja, melainkan soal
harga diri, popularitas, dan sebagai jalan pemungkas untuk meraih
kesuksesan.
Begitu besarnya tekad yang dimiliki oleh Marty sehingga dia harus
menghalalkan segala cara demi bergabung ke dalam turnamen dan membawa pulang
piala emasnya.
Meski keseluruhan plot-nya fiksi, karakter Marty yang dipakai dalam
film ini ternyata terinspirasi dari seorang pemain tenis meja sungguhan
bernama Marty Reisman. Dia adalah legenda pingpong Amerika Serikat yang
aktif dari era 1940-an hingga 1950-an.
Marty Reisman bukan sekadar atlet biasa. Dia adalah seorang pertunjukan
berjalan (showman), penipu ulung yang sering bertaruh di jalanan,
sekaligus ikon fashion pada zamannya yang dikenal dengan gaya topinya
yang khas dan karismanya yang nyentrik.
Nah, sikap dan penampilan Marty Reisman yang unik dan nyentrik itulah yang
menjadi inspirasi dari tokoh Marty di film ini.
PROS
1. Transformasi Total Timothée Chalamet
|
| Timothee Chalamet sebagai Marty |
Lupakan citra Timothée sebagai pangeran melankolis di Dune atau pembuat cokelat manis di Wonka.
Di film ini, Chalamet bertransformasi total menjadi pria paruh abad ke-20
yang cerewet, ambisius, arogan, dan sangat ceroboh. Aura kenakalan masa muda
sangat terpancar di sosok Marty ini, nge-seks iya, ngutang sana sini
iya, bahkan sampai nipu temen - temennya sendiri hanya biar dia bisa ikut ke
turnamen pingpong dunia.
Dengan kacamata bulat, kumis tipis, dan gaya berpakaian retro, Chalamet
membuktikan bahwa dia bisa memerankan karakter apapun tanpa terbebani oleh
peran dia di film lainnya. Buktinya meski dia sudah terkenal lewat
Dune, di film ini dia masih tampil memukau dengan membawakan energi
Marty yang meledak-ledak dengan sangat pas.
Rasanya sangat kontras jika dibandingkan dengan perannya di film
Dune, dan kita sebagai penonton pun tidak terlalu notice sebab
gaya aktingnya juga udah dibikin beda jauh, udah kayak beda orang.
Membuktikan betapa kelasnya si Timothee ini sebagai aktor di umurnya yang
masih sangat muda.
2. Sentuhan Josh Safdie yang Masih Khas
Jika kalian familiar dengan film - film karya Safdie Brothers, kalian pasti
tahu ciri khas mereka. Pergerakan kamera yang dinamis, musik latar yang
intens, dan karakter-karakter yang selalu tak bisa diprediksi nasibnya.
Dalam Marty Supreme ini, Josh Safdie memang tampil solo sebagai
sutradara, namun dia tidak kehilangan ciri khasnya.
Disini dia menunjukkan bahwa dia ternyata masih bisa menyuguhkan film
olahraga berbalut dark comedy penuh twist yang bikin
penontonnya selalu dibuat penasaran sama nasib dari karakter utamanya.
Dan hasilnya? Marty Supreme berhasil tampil dengan sangat bagus. Film
ini tampak sangat hidup, dengan Timothee Chalamet yang berhasil menjadi
spotlight utama dengan perannya sebagai Marty yang nyentrik dan
problematik.
3. Kacau, Penuh Masalah, Tapi Itulah Hidup
Jika kalian mencari film yang hepi - hepi, maka film ini bukan buat kalian.
Marty Supreme mencoba merefleksikan ambisi gelap dari seseorang yang
tidak ingin mimpinya pupus begitu saja.
Dengan olahraga pingpong yang menjadi kemasannya, film ini mencoba membuat
kita bercermin kepada karakter Marty yang sangat problematik, namun
deep down di bawah naluri kita semua, kita pasti pernah ada di posisi Marty.
Bedanya mungkin kita tidak se-effort Marty dalam memperjuangkan
mimpinya.
Di film ini karakter Marty emang dibikin problematik parah, mulai dari
melakukan hubungan seks dengan mantan artis biar bisa dapet relasi,
nipu temen sendiri buat beli tiket pesawat, nyuri uang dari brankas pamannya
buat biaya perjalanan ke turnamen pingpong, sampai hamilin temen kecilnya
sendiri yang sudah punya suami.
Definisi nakal tuh semuanya ada di Marty, dan itu semua dia lakukan hanya
untuk memuaskan ambisinya memenangkan kejuaran dunia pingpong.
CONS
1. Durasinya Terlalu Lama
Konfliknya emang padet banget, tapi karena semuanya ujung - ujungnya hanya
berfokus kepada pribadi dari Marty yang berusaha buat manfaatin semua orang
yang ada di dekatnya.
Jadi, kesannya tuh agak repetitif aja gitu. Contohnya nih di awal film kan
Marty manfaatin anak dari pebisnis kaya buat bangun brand dia dengan bikin
bola pingpong yang berwarna oranye.
Marty bilang bahwa bolanya pasti laku setelah dia menangin turnamen, padahal
turnamennya aja belum dimulai.
Terus ntar Marty ketemu sama Kay Stone nih yang ternyata istri dari pebisnis
kaya, dia manfaatin tuh dengan melakukan hubungan seksual sama Kay supaya
dia bisa dapet akses buat ngobrol sama suaminya.
Nah mayoritas film ini cuma nampilin gitu doang, nampilin gimana Marty
memperdaya semua orang di dekatnya dengan kedok bahwa dia adalah atlet
pingpong berbakat yang akan segera menjadi juara dunia.
B. TRAILER
C. SCORE
9/10
Marty Supreme adalah film yang kacau, problematik, tapi tetap seru
dan bikin nagih.
Film ini lepas dari konsep film pada umumnya yang menampilkan nasib dari
karakter utamanya dengan jelas. Di film Marty Supreme ini,
ending-nya bisa di interpretasikan sangat luas.
Mau kalian bilang happy ending bisa, mau dibilang
bad ending juga bisa, bahkan kalo kalian bilang film ini
ending-nya nggantung itu bener juga.
In the end, karakter Marty ini kayak nemuin satu satunya tujuan
sebenarnya dari kehidupannya. Bukan tentang pingpong, bukan tentang
kekayaan, tapi ada yang jauh lebih besar dari itu semua.
Biar kalian tahu apa maksudnya, tonton aja film ini sampai akhir, ntar juga
kalian pasti paham sendiri kok.
***
Sekian review film Marty Supreme (2025) dari saya.
Perlu diingat bahwa seluruh isi postingan ini hanya berasal dari opini saya
pribadi.
Oleh karena itu, jika ada dari kalian yang memiliki opini berbeda silahkan
beritahu saya di kolom komentar.
Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi seputar
film ataupun series menarik lainnya.
Terima kasih.


