Review Film Marty Supreme (2025), Kisah Atlet Pingpong yang Nyentrik dan Problematik

Review film Marty

Siapa yang menyangka kalau olahraga tenis meja atau pingpong bisa menjadi latar belakang sebuah film biopik yang sangat stylish, kacau, sekaligus menghibur?

Lewat sutradara Josh Safdie yang terkenal dengan film Uncut Gems; Marty Supreme ini hadir dengan ritme cepat khasnya, lengkap dengan konfliknya yang kompleks dan tak terduga.

Diproduksi oleh A24 dan dibintangi oleh si emas Hollywood, Timothée Chalamet, Marty Supreme menyajikan pengalaman menonton film yang berbeda dari film olahraga kebanyakan. 

Lalu, apakah film Marty Supreme ini layak buat kalian tonton? Untuk mengetahui jawabannya, simak ulasannya berikut:


A. SINOPSIS

Marty Supreme mengisahkan tentang Marty (diperankan oleh Timothée Chalamet), seorang pemain tenis meja berbakat yang ingin menjuarai kejuaraan dunia. Baginya, tenis meja bukanlah soal memukul bola saja, melainkan soal harga diri, popularitas, dan sebagai jalan pemungkas untuk meraih kesuksesan.

Begitu besarnya tekad yang dimiliki oleh Marty sehingga dia harus menghalalkan segala cara demi bergabung ke dalam turnamen dan membawa pulang piala emasnya.

Meski keseluruhan plot-nya fiksi, karakter Marty yang dipakai dalam film ini ternyata terinspirasi dari seorang pemain tenis meja sungguhan bernama Marty Reisman. Dia adalah legenda pingpong Amerika Serikat yang aktif dari era 1940-an hingga 1950-an. 

Marty Reisman bukan sekadar atlet biasa. Dia adalah seorang pertunjukan berjalan (showman), penipu ulung yang sering bertaruh di jalanan, sekaligus ikon fashion pada zamannya yang dikenal dengan gaya topinya yang khas dan karismanya yang nyentrik.

Nah, sikap dan penampilan Marty Reisman yang unik dan nyentrik itulah yang menjadi inspirasi dari tokoh Marty di film ini.


PROS

1. Transformasi Total Timothée Chalamet

Timothee Chalamet Sebagai Marty
Timothee Chalamet sebagai Marty

Lupakan citra Timothée sebagai pangeran melankolis di Dune atau pembuat cokelat manis di Wonka.

Di film ini, Chalamet bertransformasi total menjadi pria paruh abad ke-20 yang cerewet, ambisius, arogan, dan sangat ceroboh. Aura kenakalan masa muda sangat terpancar di sosok Marty ini, nge-seks iya, ngutang sana sini iya, bahkan sampai nipu temen - temennya sendiri hanya biar dia bisa ikut ke turnamen pingpong dunia.

Dengan kacamata bulat, kumis tipis, dan gaya berpakaian retro, Chalamet membuktikan bahwa dia bisa memerankan karakter apapun tanpa terbebani oleh peran dia di film lainnya. Buktinya meski dia sudah terkenal lewat Dune, di film ini dia masih tampil memukau dengan membawakan energi Marty yang meledak-ledak dengan sangat pas.

Rasanya sangat kontras jika dibandingkan dengan perannya di film Dune, dan kita sebagai penonton pun tidak terlalu notice sebab gaya aktingnya juga udah dibikin beda jauh, udah kayak beda orang. Membuktikan betapa kelasnya si Timothee ini sebagai aktor di umurnya yang masih sangat muda.


2. Sentuhan Josh Safdie yang Masih Khas

Jika kalian familiar dengan film - film karya Safdie Brothers, kalian pasti tahu ciri khas mereka. Pergerakan kamera yang dinamis, musik latar yang intens, dan karakter-karakter yang selalu tak bisa diprediksi nasibnya.

Dalam Marty Supreme ini, Josh Safdie memang tampil solo sebagai sutradara, namun dia tidak kehilangan ciri khasnya.

Disini dia menunjukkan bahwa dia ternyata masih bisa menyuguhkan film olahraga berbalut dark comedy penuh twist yang bikin penontonnya selalu dibuat penasaran sama nasib dari karakter utamanya.

Dan hasilnya? Marty Supreme berhasil tampil dengan sangat bagus. Film ini tampak sangat hidup, dengan Timothee Chalamet yang berhasil menjadi spotlight utama dengan perannya sebagai Marty yang nyentrik dan problematik.


3. Kacau, Penuh Masalah, Tapi Itulah Hidup

Jika kalian mencari film yang hepi - hepi, maka film ini bukan buat kalian.

Marty Supreme mencoba merefleksikan ambisi gelap dari seseorang yang tidak ingin mimpinya pupus begitu saja. 

Dengan olahraga pingpong yang menjadi kemasannya, film ini mencoba membuat kita bercermin kepada karakter Marty yang sangat problematik, namun deep down di bawah naluri kita semua, kita pasti pernah ada di posisi Marty.

Bedanya mungkin kita tidak se-effort Marty dalam memperjuangkan mimpinya.

Di film ini karakter Marty emang dibikin problematik parah, mulai dari melakukan hubungan seks dengan mantan artis biar bisa dapet relasi, nipu temen sendiri buat beli tiket pesawat, nyuri uang dari brankas pamannya buat biaya perjalanan ke turnamen pingpong, sampai hamilin temen kecilnya sendiri yang sudah punya suami.

Definisi nakal tuh semuanya ada di Marty, dan itu semua dia lakukan hanya untuk memuaskan ambisinya memenangkan kejuaran dunia pingpong.


CONS

1. Durasinya Terlalu Lama

Marty Supreme

Untuk ukuran film kayak gini, durasi 2,5 jam sih terasa sangat melelahkan ya, jujur aja nih.

Konfliknya emang padet banget, tapi karena semuanya ujung - ujungnya hanya berfokus kepada pribadi dari Marty yang berusaha buat manfaatin semua orang yang ada di dekatnya.

Jadi, kesannya tuh agak repetitif aja gitu. Contohnya nih di awal film kan Marty manfaatin anak dari pebisnis kaya buat bangun brand dia dengan bikin bola pingpong yang berwarna oranye. 

Marty bilang bahwa bolanya pasti laku setelah dia menangin turnamen, padahal turnamennya aja belum dimulai. 

Terus ntar Marty ketemu sama Kay Stone nih yang ternyata istri dari pebisnis kaya, dia manfaatin tuh dengan melakukan hubungan seksual sama Kay supaya dia bisa dapet akses buat ngobrol sama suaminya.

Nah mayoritas film ini cuma nampilin gitu doang, nampilin gimana Marty memperdaya semua orang di dekatnya dengan kedok bahwa dia adalah atlet pingpong berbakat yang akan segera menjadi juara dunia.


B. TRAILER



C. SCORE

9/10

Marty Supreme adalah film yang kacau, problematik, tapi tetap seru dan bikin nagih.

Film ini lepas dari konsep film pada umumnya yang menampilkan nasib dari karakter utamanya dengan jelas. Di film Marty Supreme ini, ending-nya bisa di interpretasikan sangat luas.

Mau kalian bilang happy ending bisa, mau dibilang bad ending juga bisa, bahkan kalo kalian bilang film ini ending-nya nggantung itu bener juga.

In the end, karakter Marty ini kayak nemuin satu satunya tujuan sebenarnya dari kehidupannya. Bukan tentang pingpong, bukan tentang kekayaan, tapi ada yang jauh lebih besar dari itu semua.

Biar kalian tahu apa maksudnya, tonton aja film ini sampai akhir, ntar juga kalian pasti paham sendiri kok.

***

Sekian review film Marty Supreme (2025) dari saya.

Perlu diingat bahwa seluruh isi postingan ini hanya berasal dari opini saya pribadi. 

Oleh karena itu, jika ada dari kalian yang memiliki opini berbeda silahkan beritahu saya di kolom komentar.

Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi seputar film ataupun series menarik lainnya.

Terima kasih.

Dava

Hanya seorang manusia biasa yang hobi nonton film dan main game

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form