Aktor yang paling ikonik di industri film Indonesia ini memang sudah tidak
perlu dipertanyakan lagi kapasitasnya. Mayoritas perannya bahkan terbilang
ikonik, mulai dari perannya sebagai BJ Habibie sampai Bossman,
semuanya berhasil mendominasi layar bioskop.
Namun, namanya juga manusia, Reza Rahardian pasti juga memiliki keinginan
untuk mencoba hal yang baru, ingin melangkah lebih jauh. Dan baginya,
langkah itu adalah berdiri di belakang kamera sebagai seorang sutradara.
Lewat film bertajuk Pangku, Reza Rahadian resmi menanggalkan
statusnya sebagai aktor utama dan mengenakan topi sutradara untuk pertama
kalinya dalam sebuah film.
Akan tetapi, apakah debutnya ini berhasil membuktikan bahwa ia juga bisa
menjadi seorang sutradara? Atau justru hanya terjebak dalam ekspektasi besar
dibalik popularitas namanya sendiri? Simak pembahasannya berikut:
SINOPSIS
Pangku berlatar di sebuah daerah di pantai utara Jawa (Pantura).
Film ini menyoroti kehidupan seorang wanita bernama Sartika, seorang ibu
tunggal yang berjuang di tengah himpitan ekonomi dan kerasnya lingkungan
sosial Pantura.
Judul "Pangku" sendiri diambil dari tradisi lokal "kopi pangku";
sebuah fenomena di warung kopi yang remang - remang di mana pembeli bisa
memarkirkan diri sambil memangku pelayan warung untuk menghibur diri atau
sekedar melepas penat setelah melakukan perjalanan jauh.
Pangku menggunakan tradisi lokal tersebut sebagai potret kemanusiaan
tentang beban hidup, pengorbanan, dan bagaimana seorang perempuan berusaha
mempertahankan harga dirinya dalam dunia yang didominasi oleh kaum patriarki
tradisionalis.
PROS
1. Penyutradaraan Reza yang Berani Keluar dari Zona Nyaman
Biasanya, ketika seorang aktor papan atas menjadi sutradara pasti filmnya
masih berada di zona nyaman, paling ceritanya ringan doang lah, nggak
terlalu banyak eksplore ini itu karena masih debut juga.
Tapi siapa sangka, Reza Rahardian justru berani tampil beda di film
perdananya sebagai sutradara. Lewat film Pangku, dia berhasil
bercerita tentang bagaimana rumitnya dinamika dalam sebuah kehidupan, yang
ditampilkan lewat karakter Sartika yang lugu dan polos, mencerminkan jiwa
yang masih putih jernih di tengah dunia yang gelap gulita.
Gaya penyutradaraannya di film ini terasa sangat realis, sunyi,
namun setiap emosinya terasa sampe ke penonton. Reza tahu betul kapan dia
harus menahan kamera untuk membiarkan kesunyian yang berbicara.
Reza memilih pendekatan yang minimalis namun emosional. Kelihaiannya
mengarahkan aktor sangat terasa; setiap karakter bernapas dengan alami tanpa
ada kesan "sedang berakting".
2. Dialog dan Aktingnya Terasa Natural
|
| akting Claresta Taufan sebagai Sartika yang sangat menjiwai karakternya |
Sebagai sutradara yang dasarnya adalah aktor, Reza pasti sudah khatam gimana cara "memanusiakan" setiap karakternya.
Dan benar saja, tiap karakter yang nongol di film ini terasa sangat hidup.
Bahkan karakter sampingan yang jadi petugas parkir pun terasa
memorable di mata penonton.
Hal itu mencerminkan bagaimana film ini mampu memberikan porsi yang pas
kepada tiap karakternya, sehingga tidak ada satu pun yang terasa tertinggal.
Penampilan Claresta Taufan yang berperan sebagai Sartika juga patut diacungi
jempol. Karakter Sartika dibawakan dengan begitu rapuh namun juga tegar.
Kalian bahkan bisa merasakan beratnya beban yang ada di pundak Sartika hanya
lewat tatapan mata dan helaan napas.
Dialognya emang sengaja diminimalkan sehingga penonton bisa fokus menerka -
nerka nasibnya dari ekspresi wajahnya saja, and it works.
3. Visual dan Sinematografi yang Puitis tapi Realistis
Sinematografi film ini berhasil menangkap dualitas Pantura. Di satu sisi,
ada keindahan lanskap pesisir yang melankolis saat senja. Namun di sisi
lain, ada keintiman yang menyesakkan di dalam bilik warung kopi
remang-remang.
Potret keadaan sosialnya juga ditampilkan dengan sempurna, terlihat jelas
dari bagaimana ironisnya hidup Sartika yang bahkan mau makan ikan saja harus
menunggu pemberian dari orang lain, padahal dia saja tinggal di pesisir
pantai.
Penggunaan pencahayaan yang minim (low - light) di beberapa adegan
malam juga memberikan atmosfer yang magis yang terasa menyesakkan dan
menyedihkan.
CONS
1. Alurnya Sangat lambat
Sudah saya singgung sebelumnya bahwa film ini minim dialog. Jadi, wajar jika
pacingnya dibikin sangat lambat.
Banyak scene - scene single shot dengan durasi cukup panjang yang
sifatnya stationary saja, memaksa penonton untuk menerka - nerka
sebenarnya apa yang sedang terjadi sembari melihat ke lingkungan sekitar
yang mayoritas menampilkan kondisi desa pesisir yang didominasi oleh rakyat
golongan bawah.
Scene yang terasa sunyi seperti itu memang dibutuhkan di film ini.
Tapi bagi kalian yang terbiasa dengan narasi cepat atau penuh
plot twist, Pangku mungkin akan tampak membosankan di mata kalian.
2. Ending-nya Kurang Nendang
Konflik dari film Pangku ini sebenarnya sudah tersusun sangat rapi
sejak awal. Namun entah kenapa, bagi saya ending-nya masih terlihat
terlalu aman buat para karakternya.
Karakter Sartika seolah hanya pasrah begitu saja menerima keadaan, padahal
sejak awal dia lah yang sangat tersiksa, namun dia sama sekali tak pernah
bisa melawan, bahkan sampai filmnya usai.
Nasib karakter Hadi yang diperanin sama Fedi Nuril juga terasa dibuang
begitu saja di akhir. Padahal, dia harusnya punya andil yang lebih besar
saat Sartika tahu tentang sosok aslinya.
TRAILER
SCORE
8/10
Reza Rahardian sama sekali tidak main - main di kursi sutradara. Lewat film
debutnya ini saja, dia sudah membuktikan kapasitasnya sebagai seorang
sutradara yang inovatif.
Dia sama sekali tidak takut untuk bereksperimen dan bermain di luar zona
nyaman. Dan jujur saja, itu sangat dibutuhin di industri perfilman indonesia
saat ini.
Udah cukup lah horor sama drama mulu, sekali sekali rilis film tuh yang
kayak Pangku gini, yang berani tampil beda, berani ngusung tema
cerita yang tergolong tabu buat dibicarakan, dan di akhir film seluruh
pesannya berhasil tersampaikan ke penontonnya.
Lewat film Pangku, Reza membuktikan bahwa ia tidak hanya bisa
menginterpretasikan naskah sebagai aktor, tetapi juga mampu menenun rasa,
isu sosial, dan visual menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
Film ini adalah sebuah perayaan terhadap ketangguhan perempuan dan potret
nyata dari sisi Indonesia yang jarang tersorot.
Sudah pasti film Pangku ini sangat worth it buat kalian
tonton.
***
Sekian review film Pangku (2025) dari saya.
Perlu diingat bahwa seluruh isi dari postingan ini hanya berasal dari opini
saya pribadi saja. Oleh karena itu, jika ada dari kalian yang memiliki
pendapat yang berbeda silahkan beritahu saya di kolom komentar.
Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi seputar
film ataupun series menarik lainnya.
Terima kasih.

