Sangat jarang ada film ataupun series yang mengambil pov dari seorang petinju. Yang paling terkenal paling franchise film Rocky doang, atau anime Hajime no Ippo.
Selain 2 nama itu, kayaknya gaada lagi deh. Makanya, waktu
series Bloodhounds ini muncul, ekspektasi dari saya pun langsung
tinggi. Kapan lagi coba nemu series yang nyeritain kisah seorang
petinju.
Dan benar saja, Bloodhounds ternyata sama sekali tidak mengecewakan.
Serial produksi Netflix ini langsung menarik perhatian saya hanya dari
episode awalnya saja, sebab ceritanya sangat fresh dengan perpaduan
genre drama dan action-nya yang pas.
Series ini kan mengisahkan tentang bisnis rentenir, dan karena latar
waktunya saat wabah Covid melanda, jadi rasanya tuh kayak relate aja
gitu tentang konflik yang nongol, tentang kesulitan mencari uang, membayar
sewa bangunan, dll.
SINOPSIS
Bloodhounds mengikuti kisah dua petinju muda, Gun-woo dan Woo-jin, yang
terjebak dalam dunia rentenir ilegal setelah ibu dari Gun-Woo kesusahan untuk
mempertahankan bisnis kedai miliknya, sehingga mau tidak mau dia harus
meminjam uang dari para rentenir.
Gun-woo dan Woo-jin pada awalnya adalah musuh saat turnamen tinju tingkat
pemula. Namun lama kelamaan, hubungan Gun-woo dan Woo-jin makin dekat sebab
mereka berdua memiliki kehidupan yang tak jauh berbeda.
Tapi tenang aja, meski hubungan antara Gun-Woo dan Woo-jin ini deket banget,
mereka berdua tetap menjadi teman aja kok (bromance).
Ini nih yang harus dicatat sama produser film eropa, nggak yang dikit - dikit
LGBT, dikit - dikit ada unsur kaum pelangi. Kayak Bloodhounds ini lho,
nggak ada unsur LGBT-nya sama sekali meski karakter utamanya cowok semua.
PROS
1. Bromance Woo-jin dan Gun-woo yang Menyenangkan untuk Dilihat
|
| Gun-woo (kiri) dan Woo-jin (kanan) |
Daya tarik terbesar series ini adalah hubungan persahabatan antara Woo-jin dan Gun-woo yang merupakan karakter utama dari series ini. Gun-woo tampil sebagai seorang yang pendiam namun punya skill tinju yang bagus, sedangkan Woo-jin tampak lebih cerewet meski skill tinjunya tidak sehebat Gun-woo.
Mereka berdua tampak seperti seorang introvert dan ekstrovert yang ditaruh
dalam satu ruangan yang sama.
Dan uniknya, perbedaan itulah yang membuat hubungan keduanya makin terlihat
menyenangkan untuk dilihat.
Mereka sering berdebat karena hal sepele, sering nyalahin satu sama lain,
but in the end mereka selalu tahu bahwa mereka berdua saling
membutuhkan.
Tidak hanya karakter utamanya yang berhasil tampil maksimal, karakter
villain-nya juga nggak kalah bagusnya. Park Sung-woong yang memerankan
karakter Kim Myeong-gil berhasil tampil meyakinkan sebagai seorang pimpinan
perusahaan rentenir yang kejam dan manipulatif.
Ekspresinya yang selalu tampak datar, dan bisa meledak hanya dalam hitungan
detik saja membuat kita sebagai penonton selalu dibuat was - was Kim
Myeong-gil nongol di layar.
2. Genre Action-nya nggak Nanggung
Jika dibandingkan dengan mayoritas k-drama lain yang lebih mengandalkan efek
dramatis, Bloodhounds justru tampil berbeda. Dikarenakan kedua karakter
utamanya merupakan seorang petinju, jadi setiap koreografi bertarungnya pun
dibuat seakan - akan seperti seorang petinju.
Setiap pukulannya terasa sangat mentah, lengkap dengan sound effect-nya
yang juga nggak dibikin lebay, membuat sequence action-nya selalu
tampak menarik buat dilihat.
Selain itu, karakter utamanya juga nggak dibikin tahan banting. Mereka ya
terlihat kayak orang biasa, bisa kena pukul dari belakang, bisa kena tendang,
ya kayak manusia pada umumnya lah, nggak yang dibikin anti pukul.
Nonton Bloodhounds tuh sekilas kayak nonton The Raid versi
petinju, sebab keduanya punya sequence action yang intens lengkap
dengan koregrafi bertarungnya yang cepat dan detail.
3. Ngasih Banyak Kritik Sosial
Di balik aksi brutalnya, series ini sebenarnya membawa isu sosial yang
cukup relevan, khususnya mengenai utang, rentenir, dan eksploitasi ekonomi
rakyat menengah ke bawah.
Series ini menunjukkan bagaimana orang-orang yang sedang kesulitan
finansial justru menjadi sasaran empuk bagi para rentenir ilegal untuk
mendapatkan keuntungan besar.
Konfliknya yang relate ke dunia nyata, ditambah dengan gaya penceritaannya
yang bagus membuat series ini selalu menarik di tiap fasenya.
CONS
1. Ending-nya Terburu - Buru
Kalau saja series Bloodhounds ini nggak kena skandal, pasti
ending-nya bakal dibikin dengan lebih proper lagi.
Buat kalian yang belum tahu beritanya, series Bloodhounds ini sempat terkena
masalah waktu pembuatan episode terakhirnya, sebab aktris Kim Sae-ron yang
berperan sebagai Cha Hyeon-ju di series ini terkena kasus yang cukup
berat, sehingga mau tidak mau akhirnya perannya harus diganti di episode -
episode akhir.
Padahal, peran dari karakter Cha Hyeon-ju di series ini tergolong krusial,
karena dia menjadi anggota inti bersama Gun-woo dan Woo-jin dalam misi
penangkapan Kim Myeong-gil.
Bahkan sutradara series ini sampai stress karena masalah Kim Sae-ron
tersebut, dan itu pun terlihat jelas dampaknya ke episode terakhir dari
series ini yang ceritanya terkesan terlalu terburu - buru.
TRAILER
SCORE
7/10
Bloodhounds berhasil menghadirkan kombinasi action intens,
persahabatan yang menyentuh, serta konflik emosional yang membuat penonton
terus penasaran di setiap episodenya.
Kalau saja Kim Sae-ron nggak kena masalah, mungkin series ini bakal
dapet skor yang lebih tinggi, sebab ending ceritanya pasti akan dibuat
lebih menarik jika dibandingkan dengan yang dirilis sekarang.
Namun, terlepas dari itu semua, Bloodhounds masih menjadi
series yang worth it buat kalian tonton kok, khususnya buat
kalian pecinta genre action.
***
Sekian review series Bloodhounds dari saya. Apabila ada dari kalian
yang memiliki opini berbeda mengenai series ini silahkan beritahu saya di
kolom komentar.
Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi menarik
seputar film ataupun series lainnya.
Terima kasih.

