Review All Quiet on the Western Front, Gambaran Kejamnya Perang Dunia I

Review Film All Quiet on the Western Front (2022)

Konflik dan perang, keduanya merupakan topik yang dominan dalam sejarah peradaban umat manusia. Entah apapun masalahnya, manusia memang sangat suka dengan yang namanya konflik, bahkan di dunia yang damai sekarang pun masih ada banyak sekali konflik yang terjadi di luar sana.

Lantas, apa faktor penyebabnya? Tentu saja beraneka ragam, tapi yang pasti faktor utamanya yaitu ketamakan yang sudah melekat dalam diri manusia itu sendiri sejak dia diciptakan. Jika bukan karena rakus, manusia tidak akan mau berkonflik, apalagi sampai memicu sebuah perang.

Berbicara mengenai perang, tak lengkap rasanya jika kita tidak membahas Perang Dunia, perang yang memberikan luka besar dalam sejarah umat manusia. Perang ini juga lah yang menjadi inti cerita dari film karya sutradara Edward Benger ini.

All Quiet on the Western Front menceritakan kisah dari seorang pemuda bernama Paul Baumer (Felix Kammerer) bersama dengan tiga rekannya yakni Franz Muller (Moritz Klaus), Albert Kropp (Aaron Hilmer), dan Ludwig Behm (Adrian Grunewald) yang ikut serta menjadi tentara selama masa Perang Dunia I berlangsung. Mereka berempat dengan semangatnya pergi ke medan perang setelah menerima pidato heroik tentang imbalan dan jasa yang akan diberikan sebagai seorang tentara.

Senyum yang penuh semangat dari keempat pemuda tersebut seketika lenyap ketika sampai di medan perang. Kacaunya suasana peperangan, ditambah dengan minimnya pasokan makanan dan air bersih membuat mereka menyesali keputusannya. Namun apalah daya, mau tidak mau mereka sekarang harus bertaruh nyawa dan berjuang di garis depan demi membela tanah air mereka.

Jika film 1917 memberikan sentuhan drama perang yang melankolis, maka All Quiet on the Western Front ini menjadi kebalikannya. Tidak ada drama, semuanya dipenuhi dengan ledakan dan tembakan, persis seperti dengan apa yang kalian harapkan ketika menonton sebuah film dengan tema peperangan. Yap, adegan action dalam film ini memang sangat padat, bahkan di awal film saja kalian sudah disuguhi dengan beberapa scene baku tembak yang cukup sadis.

Plot ceritanya yang solid juga menjadi alasan mengapa film ini disukai banyak orang. Edward Benger sebagai sutradara sepertinya tidak mau memberikan porsi yang berat pada cerita, karena dia tahu yang diinginkan penonton pasti hanyalah scene baku hantam antar prajurit yang ganas dan liar. Dan benar saja, film ini pada akhirnya berhasil mendapatkan banyak pujian dari para penontonnya. Skor 7,8 di situs IMDb saya rasa sudah menjadi nilai yang bagus untuk menggambarkan berbagai keunggulan yang ada di film ini.

All Quiet on the Western Front ini sepenuhnya dikemas dengan bahasa Jerman, membuat nuansanya terlihat makin realistis. Aktor yang berperan pun berhasil membawakan karakter mereka dengan cukup baik. Saya sendiri sangat suka dengan peran dari Felix Kammerer sebagai Paul yang di awal film terlihat polos hingga berubah menjadi orang yang pendiam seiring dengan banyaknya pertempuran yang dia lalui.

Gaya sinematografi film ini juga sangat memukau mata. Dari awal saya sudah suka dengan bagaimana cara Edward Benger menampilkan potongan - potongan scene singkat sebagai prolog. Kita sebagai penonton seolah dibuat paham dengan apa yang terjadi dengan dialog yang seminim mungkin. Skor musiknya pun sama bagusnya, meski bagi saya di beberapa adegan musiknya terlalu keras, rasanya udah kayak lihat scene jumpscare di film - film horor, tapi masih oke lah, masih bisa dimaklumi.


SCORE

8/10

Beberapa tahun ini film dengan tema peperangan mayoritas memang hasilnya memuaskan semua, begitu juga dengan film All Quiet on the Western Front ini yang banyak mendapat pujian baik dari audience maupun kritikus. Menurut saya film ini berhasil menampilkan bagaimana kacaunya keadaan selama perang dunia I dilihat dari sudut pandang tentara Jerman.

Meski durasinya tergolong lama, film ini mampu menyajikannya dengan baik, ceritanya solid, penokohannya bagus, meski masih terdapat beberapa karakter yang bagi saya kurang mendapatkan spotlight lebih, khususnya terdapat pada karakter "Kat" Katczinsky (Albrecht Schuch) yang rasanya sampai akhir film kurang ngena aja gitu buat penonton, padahal harusnya dia lah yang menempati posisi kedua setelah karakter utama, tapi kayak masih kurang aja gitu pendalaman karakternya.

Overall, All Quiet on the Western Front ini menjadi rekomendasi film yang bagus buat kalian penyuka film perang yang penuh dengan adegan baku tembak. Pokoknya berbanding terbalik dah sama film 1917 walaupun keduanya sama - sama mengusung tema tentang perang.


TRAILER


***

Sekian review dari saya mengenai film All Quiet on the Western Front. 

Perlu diingat bahwa seluruh isi dari postingan ini hanya berasal dari opini saya pribadi yang sifatnya subjektif. Maka dari itu, jika ada dari kalian yang ingin memberikan tambahan silahkan langsung tulis saja di kolom komentar.

Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan rekomendasi film dan serial favorit lainnya.

Terima kasih.

Dava

Hanya seorang manusia biasa yang hobi nonton film dan main game

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form