Apa arti menjadi manusia ketika berhadapan dengan alam yang tak bisa
ditaklukkan?
Ungkapan terasa makin mengena setelah kalian menonton series yang
akan saya bahas kali ini.
Yap, seperti yang udah tertera di judul, series tersebut adalah Season 1
dari The Terror yang rilis pada tahun 2018.
Series ini mengadaptasi kisah nyata dari ekspedisi Sir John Franklin
milik Angkatan Laut Inggris yang hilang secara misterius di Kutub Utara pada
tahun 1845.
Misi utama dari ekspedisi itu adalah mencari
Northwest Passage, sebuah jalan pintas yang diyakini dapat menuju ke
wilayah Asia Pasifik dalam waktu singkat.
Namun sayangnya ambisi yang besar itu tak di barengi dengan persiapan yang
matang, sebab ternyata faktor utama yang menjadi kegagalan bukanlah
teknologi kapalnya, melainkan faktor alam dan cuaca ekstrem yang menghantui
setiap jengkal perjalanan mereka.
Series ini akan mengambil fokus dari kapten Francis Crozier yang
digambarkan sebagai seorang pemimpin kapal yang sangat realistis, namun juga
pesimis dari ekspedisi yang terbilang "nekat" tersebut.
Kapten Francis Crozier ini menahkodai kapal HMS Terror yang letaknya
di belakang, sedangkan Sir John Franklin dan tangan kanannya, James
Fitzjames, menahkodai kapal HMS Erebus yang letaknya di depan.
PROS
1. Ketidakberdayaan Manusia Melawan Alam
Terkadang, teror yang paling menakutkan justru datang dari hal yang tak
terduga.
Seperti dalam series ini contohnya, alam lah yang justru menjadi
teror utama yang membuat para kru HMS Erebus dan
HMS Teror mulai tumbang satu per satu.
Es Arktik digambarkan tak hanya sebagai latar, melainkan sebagai musuh
aktif.
Semuanya bermula dengan membekunya permukaan air akibat suhu ekstrem,
membuat kapal HMS Erebus dan HMS Terror tak bisa bergerak
sedikit pun, sehingga mereka pun memutuskan untuk diam dan menunggu,
berharap es nya segera mencair terkena paparan sinar matahari.
Namun, sebelum hal itu terjadi, suhu ekstrem di tempat itu mulai membekukan
tubuh dan moral para kru. Ditambah dengan kegelapan yang berlangsung selama
berbulan-bulan pada akhirnya merusak kesehatan dan mental mereka.
Semakin lama mereka terjebak, semakin tampak jelas bahwa teknologi dan
keangkuhan kolonial Inggris tidak berarti apa-apa saat harus dihadapkan
dengan kejamnya alam.
Series ini menjadi pengingat bahwa secanggih apapun teknologi manusia, alam
lah yang akan menjadi pemenangnya.
2. Konflik Kepemimpinan Crozier vs Fitzjames
|
| Kapten Francis Crozier (kiri) dan Kapten James Fitzjames (kanan) |
Meski HMS Erebus dan HMS Terror memiliki tujuan dan misi yang sama, namun pemimpin dari kedua kapal tersebut memiliki kepribadian yang jauh berbeda.
Sir John Franklin dan tangan kanannya, James Fitzjames, yang menjadi nahkoda
dari HMS Erebus terlihat sangat optimis sejak awal. Mereka berdua
percaya bahwa ekspedisi tersebut akan berhasil, sebab kapal yang mereka
tunggangi terbilang "paling maju" di era itu.
Sementara itu, Kapten Francis Crozier ini yang menahkodai kapal
HMS Terror malah berpikir sebaliknya. Dia tampak selalu khawatir akan
beragam ancaman yang bisa terjadi, khususnya saat mereka berada di wilayah
Arktik yang masih belum terjamah oleh umat manusia.
Dia bahkan berulang kali meminta untuk melakukan evakuasi para kru dengan
meninggalkan kapal sedini mungkin, namun usulannya tersebut ditolak karena
persediaan masih banyak dan masih ada harapan es nya bakal mencair.
Konflik kepemimpinan makin memuncak saat Sir John Franklin tewas. Keputusan
- keputusan buruk yang diambil setelahnya seperti menunda evakuasi dan masih
kekeh ingin melanjutkan misi justru makin mempercepat kehancuran seluruh
kru.
3. Hadirnya Tuunbaq dan Suku Inuit
Ini dia nih yang menjadi daya tarik utama dari series ini, yaitu
hadirnya sesosok monster misterius bernama Tuunbaq.
Tuunbaq digambarkan sebagai entitas supranatural berwujud mirip seekor
beruang raksasa namun memiliki wajah manusia. Tuunbaq bukan sekadar
monster, melainkan simbol ketidakharmonisan manusia dengan alam dan budaya
lokal. Ia menyerang karena ekspedisi HMS Erebus dan
HMS Terror sudah melanggar keseimbangan wilayah yang sakral.
Karena asal usulnya yang penuh dengan hal mistis, Tuunbaq tidak
bisa dibunuh dengan cara konvensional, yang membuat seluruh persenjataan
dari kru kapal terasa sia sia.
Dalam series ini, Tuunbaq memiliki hubungan yang erat
dengan suku Inuit
Buat kalian yang belum tau, suku Inuit ini adalah suku yang mendiami wilayah
Arktik.
Jadi, jika dibandingkan dengan manusia pada umumnya, mereka punya skill dan
pengalaman yang tinggi untuk bertahan hidup di tengah suhu dingin yang
ekstrem.
Penggambaran suku Inuit di series ini juga terbilang cukup realistis.
Mereka hadir sebagai suku yang ramah dan tidak ingin mencari masalah. Tapi
justru kru dari kapal HMS Erebus dan HMS Teror lah yang justru
memulai masalah dengan mereka.
4. Makanan Kaleng dan Keracunan Timbal: Inovasi yang Berujung Tragedi
Di era ekspedisi HMS Erebus dan HMS Teror, makanan kaleng
adalah sebuah inovasi yang terbilang baru, sebab dengan adanya makanan
kaleng tersebut, mereka bisa memiliki cadangan makanan yang lebih terjamin
untuk melakukan ekspedisi dalam waktu yang lama.
Akan tetapi, sayangnya karena inovasi makanan kaleng tersebut masih
terbilang baru, makanan kaleng yang mereka bawa ternyata memiliki segel yang
buruk, sehingga lama kelamaan para kru mulai menunjukkan gejala keracunan
timbal.
Dengan tercemarnya pasokan makanan mereka, para kru HMS Erebus dan
HMS terror
mulai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan makanan, entah itu dengan
membunuh binatang peliharaan, atau bahkan menjadi kanibal.
CONS
1. Alurnya berjalan sangat lambat
Tipikal kayak series historis pada umumnya, The Terror ini
juga punya alur yang sangat lambat, sehingga mungkin akan membuat kalian
bosan, terutama di 3 episode awal yang masih minim konflik.
Tapi tenang aja, meski alurnya lambat, nanti seiring episodenya berjalan
series ini terasa makin seru dan menegangkan kok. Terutama nanti saat sosok
Tunnbaq-nya muncul, feels horor-nya kerasa banget tuh.
Tiap karakter inti dalam series ini juga memiliki pendalaman karakter
yang pas. Jadi, kita sebagai penonton seakan bisa merasakan setiap emosi
yang dialami oleh para karakter tersebut.
TRAILER
SCORE
8/10
Jika dilihat secara keseluruhan, Season 1 dari series The Terror ini
adalah sebuah masterpiece, mulai dari alurnya, karakternya,
konfliknya, semuanya berhasil dipadukan dengan sempurna.
The Terror tak hanya semata - mata memberikan teror mengerikannya
saja, tapi juga memberikan banyak pelajaran berharga.
Kalau dibandingin sama series lain mungkin The Terror ini punya
kemiripan kayak mini series Chernobyl.
Bedanya hanya di unsur fiksinya doang, di The Terror kita masih
mendapatkan teror dari makhluk mitologi kayak Tuunbaq, jadi nggak
sepenuhnya akurat dari kisah historis yang diangkat.
Buat kalian penyuka series psychological horor, The Terror udah pasti
wajib masuk dalam list kalian.
***
Sekian review dari saya mengenai
series The Teror Season 1 (2018).
Perlu diingat bahwa seluruh isi dari postingan ini murni berasal dari opini
saya pribadi saja. Jadi jika ada dari kalian yang ingin memberikan opini
lain mengenai series ini, silahkan langsung tulis saja di kolom
komentar.
Jangan lupa selalu kunjungi blog
Film Corner
untuk mendapatkan informasi menarik seputar film dan series lainnya.
Terima kasih.


