Kalau bicara tentang remake film, kayaknya mayoritas dari kalian udah tau lah ya artinya. Di era sekarang, tren remake film emang sering dilakukan, soalnya remake bisa jadi solusi yang cukup mudah untuk meraup keuntungan besar tanpa harus repot - repot nulis cerita.
Tinggal adaptasi cerita dari film klasik dulu yang kontroversial, lalu
tinggal ubah saja temanya dengan latar waktu di era sekarang, dan foila,
filmnya bakal cuan besar.
Contohnya saja ya film Faces of Death garapan Daniel Goldhaber ini.
Film ini merupakan remake dari film berjudul sama yang dulu sempat
kontroversial di tahun 1978.
Bedanya, Faces of Death yang rilis tahun 2026 ini mengusung tema
modern tentang obsesi internet terhadap kekerasan dan konten viral. Filmnya
pun tidak dibuat menggunakan format mockumentary seperti film
originalnya dulu.
SINOPSIS
Faces of Death mengikuti kisah Margot Romero (Barbie Ferreira),
seorang moderator konten di platform media bernama Kino (mirip Tik Tok) yang
tugasnya adalah menyaring setiap konten video yang di upload oleh
para user.
Margot inilah yang menentukan apakah video tersebut layak upload,
mengandung kekerasan, penyalahgunaan narkoba, atau beragam penyimpangan
lainnya.
Awalnya sih semuanya terlihat normal saja. Namun, situasi perlahan berubah
setelah Margot melihat serangkaian video konten pembunuhan menggunakan
manequin yang tampak terlalu realistis baginya.
Saat Margot mencoba menyelidiki asal-usul video tersebut, ia justru terjebak
dalam permainan seorang pembunuh berantai yang terobsesi untuk menciptakan
ulang setiap adegan kematian dari film Faces of Death yang rilis di
tahun 1978.
PROS
1. Nggak Hanya Nampilin Gore, tapi Satire Sosial Juga
Banyak orang mungkin mengira film ini hanya menjual adegan
slasher dan gore-nya doang. Memang benar juga sih, film ini
penuh dengan adegan pembunuhan dengan kekerasan brutal.
Tapi uniknya, film ini juga berhasil menampilkan unsur satir sosial yang
dikemas dengan cerdas. Faces of Death mencoba menampilkan sisi gelap
dari sebuah tren sosial media, dimana orang - orang tidak peduli apakah
video viral yang mereka tonton menimbulkan korban jiwa atau tidak.
Mereka hanya peduli bahwa video itu menghibur karena menampilkan adegan
kekerasan yang tidak bisa mereka lakukan di kehidupan nyata.
Film ini memainkan rasa paranoia penonton tentang budaya
doomscrolling dan kecanduan konten ekstrem di era tren internet
modern.
Seberapa nekat kah seseorang demi viral? Apakah kekerasan bisa
dinormalisasikan demi bisa mencapai fyp? Film ini akan membuat kalian
bertanya - tanya tentang hal tersebut.
2. Karakter Villain-nya sangat Memorable
Dacre Montgomery yang berperan sebagai seorang psikopat yang narsistik di
film ini tampak sangat believable, namun juga tampak
disturbing di saat yang bersamaan.
Wajah ramah dan polosnya terasa sangat meyakinkan. Dan saat dia beraksi,
perubahan ekspresinya pun sangat terasa.
Meski namanya belum terkenal, dari perannya di film ini saja udah kelihatan
kalau dia adalah aktor yang berbakat. Cocok lah buat meranin karakter yang
manipulatif, mukanya sekilas terlihat ramah padahal sebenarnya dia adalah
psikopat.
CONS
1. Karakter Utamanya terlalu Bodoh
|
| Margot Romero yang diperankan oleh Barbie Ferreira |
Ini nih biang kerok yang dari dulu sebenarnya udah berulang kali dipermasalahin juga di tiap film film modelan slasher kayak gini.
Entah obat apa yang dikonsumsi oleh karakter utamanya, pokoknya setiap
keputusan yang dia ambil tuh bodoh banget gitu.
Contohnya nih kan ada scene dia sama satu tawanan lain tuh mau kabur,
timingnya udah pas nih, eh dia dengan pd nya malah milih nyari barang bukti
dulu dong. Dan nggak cukup sampai disitu aja, ntar barang buktinya itu
pun rusak juga waktu dia lari.
Masih kurang bodohnya nih? Oke ada lagi yang lebih parah kok.
Singkat cerita si Margot itu kan disuruh sama psikopatnya buat dateng ke
rumahnya sambil bawa barang buktinya yang sebenarnya udah rusak. Bukannya
nyari pertolongan, dia malah pergi kesana sendirian doang tanpa persiapan
apa - apa.
Please lah logikanya dimana gitu lho, udah tau mau lawan psikopat, eh
dia masih berani buat dateng kesitu sendirian hanya karena dia mau
nyelamatin 2 tawanan lain yang sebenarnya juga nggak dia kenal.
Kalau kata CokMus sih tingkahnya Margot di film ini udah dalam kategori
Why to the max. Udah nggak bisa ditolong pokoknya ketololannya.
TRAILER
SCORE
5/10
Score 5 saya berikan berkat unsur satire sosial di film ini yang berhasil
dikemas dengan bagus. Kalau nggak ngusung tema itu, kayaknya ratingnya bakal
lebih anjlok lagi, sebab jujur aja kalau dari segi cerita dan kesadisan,
film ini masih tergolong biasa saja.
Masih banyak kok film slasher yang lebih sadis dari film ini. Apalagi
kalau soal cerita, behh sama film indo aja lebih bagusan film indo deh
kayaknya.
***
Sekian review film Faces of Death (2026) dari saya. Buat kalian
yang udah nonton film ini, gimana nih pendapat kalian, beritahu saya di
kolom komentar di bawah ya.
Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi menarik
seputar film ataupun series lainnya.
Terima kasih.

