Review Film Monster (2023), Melihat Sisi Monster Manusia dari 3 Perspektif Berbeda

Review Film Monster (2023)

Dunia sinema di tahun 2024 sepertinya akan jauh lebih menarik jika dibandingkan dengan tahun lalu, karena diperkirakan ada banyak sekali film bagus yang bakal rilis di tahun ini, salah satunya yaitu film yang akan saya bahas sekarang. 

Seperti yang sudah kalian lihat di judul, film yang saya maksud adalah Monster karya sutradara Jepang Hirokazu Kore-eda.

Buat kalian yang nggak tahu siapa Hirokazu Kore-eda, beliau merupakan sutradara yang cukup terkemuka di Jepang berkat karyanya yang selalu unik dan otentik jika dibandingkan dengan film - film sejenis lainnya. Hirokazu Kore-eda menitik beratkan filmnya pada genre drama keluarga yang terkesan santai, pelan, namun uniknya cerita yang disuguhkan olehnya selalu terlihat istimewa.

Saya masih ingat dengan film buatannya yang berjudul Broker (2022) yang juga berhasil memukau saya saat menontonnya. Saya masih cukup speechless dengan alur cerita yang dibawakan di film itu karena meski kedengarannya konflik yang ada terkesan sangat klise, tapi tidak ada satu pun yang bisa menebak ending-nya bakal kayak gimana.

Formulanya yang khas itu ternyata masih dia bawakan di film Monster ini. Monster mengisahkan tentang seorang Ibu bernama Saori Mugino (Sakura Ando) yang merasa gelisah ketika anaknya, Minato Mugino (Soya Kurokawa), mulai berperilaku aneh. 

Usut punya usut, perilaku aneh anaknya itu ternyata disebabkan oleh guru di sekolahnya yang sering memukuli atau bahkan mengatainya dengan kata - kata yang buruk.

Merasa tidak terima, sang Ibu pun langsung mendatangi guru itu di sekolah untuk menuntutnya. Namun, tanpa mereka ketahui, kejadian yang sebenarnya dialami oleh Minato ternyata jauh mengerikan dari apa yang bisa mereka bayangkan.

Alur cerita dari film Monster ini tergolong unik, karena keseluruhan kisahnya diambil dari 3 perspektif yang berbeda. Perspektif pertamanya diambil dari sudut pandang Saori yang merupakan Ibu dari Minato. 

Saori dikisahkan merupakan seorang wanita pekerja keras, sebab setelah suaminya meninggal, dia berjanji untuk mengurus Minato seorang diri sampai dia dewasa. Setelah Minato nanti berkeluarga, barulah Saori bisa mencari pengganti sosok suaminya yang telah tiada.

Di tengah - tengahnya kerasnya kehidupan yang dijalaninya, Saori tampil sebagai sosok yang penyayang dan penuh perhatian kepada Minato yang merupakan anak semata wayangnya. Oleh karena itu, saat Minato mengatakan bahwa perilaku anehnya disebabkan oleh seorang guru di sekolahnya, Saori pun tidak segan langsung menuntut guru itu di sekolah untuk meminta pertanggung jawaban.

Sudut pandang selanjutnya diambil dari Michitoshi Hori (Eita Nagayama) yang merupakan guru yang dipermasalahkan Saori di awal film. Lewat sudut pandang Hori (atau biar lebih gampangnya saya sebut Hori sensei saja), terungkap bahwa sebenarnya dia tidak melakukan apapun kepada Minato. 

Bahkan, luka di hidung yang sempat dialami Minato di awal film ternyata berasal dari unsur ketidak sengajaan saja. Luka itu ternyata muncul karena terkena siku Hori sensei saat dia mencoba menghentikan Minato yang sedang melemparkan barang - barang milik teman kelasnya ke segala arah, bukan karena ditusuk pakai jari seperti yang Minato jelaskan kepada ibunya.

Sudut pandang Hori sensei secara tidak langsung menepis segala anggapan buruk tentangnya yang ada di sudut pandang Saori. Hori sensei yang di paruh awal film digambarkan sebagai karakter antagonis utama di mata Saori, ternyata aslinya dia tidak bersalah sama sekali. 

Film ini seolah menegaskan bahwa orang yang terlihat jahat di mata kalian itu belum tentu beneran jahat selama kalian hanya menilainya dari sudut pandang kalian sendiri.

Nah, setelah sudut pandang dari Hori sensei selesai, selanjutnya giliran sudut pandang dari Minato lah yang ditampilkan. Saya pikir film ini bakalan stop ngasih kejutan sampai di sudut pandang Hori sensei saja. Tapi ternyata, kejutan yang sebenarnya hadir saat ceritanya diambil dari sudut pandang Minato.

Lewat sudut pandang dari anak kecil ini, semua misteri yang hadir sejak awal film berhasil terpecahkan. Saya nggak akan terlalu jelasin cerita dari sudut pandang Minato karena isinya bakal spoiler, jadi kalo kalian penasaran mending langsung tonton aja deh film ini secara keseluruhan biar kalian tahu sendiri bagaimana keseluruhan alurnya.

Film ini berusaha mengulik lebih dalam tentang ragamnya perspektif yang dimiliki oleh manusia ketika sedang berhadapan dengan manusia lainnya. Selama menonton film ini kalian seolah selalu dibuat bertanya mengenai siapa yang menjadi monster sebenarnya. Apakah Hori sensei? Minato? Kepala Sekolah? Atau malah Ibu Minato sendiri? Jawabannya akan kalian temukan sendiri setelah menonton filmnya.

Oiya, meski tema yang diangkat tergolong ringan, menurut saya rating film ini harus masuk ke kategori dewasa meningat betapa sensitifnya isu sosial yang diangkat di film ini. Saya yakin mayoritas penonton Indonesia pasti tidak akan menyukai ending-nya, karena ya balik lagi isu sosial yang diangkat di film ini emang terlalu sensitif, khususnya buat masyarakat Indonesia yang mayoritas beragam islam.


SCORE

6/10

Monster memang unggul di segi narasi dan sinematografi, sangat relevan lah dengan pencapaiannya yang memenangkan kategori naskah terbaik di ajang Cannes Film Festival.

Jika dilihat secara keseluruhan, Monster memang menjadi film yang sangat filosofis. Ada banyak sekali pesan yang terselipkan di setiap adegannya, baik itu secara tersirat maupun tersurat. Hanya saja karena isu sosial yang diangkat di film ini terlalu sensitif jadi saya rasa film ini nggak bakal dapet perhatian lebih di Indonesia. Kalian nanti bakal tahu sendiri lah kenapa alasannya waktu udah nonton film ini.

Film ini memiliki rating 13 tahun keatas, tapi bagi saya film ini harusnya memiliki rating dewasa, mengingat betapa sensitifnya isu yang diangkat. Kalian sebagai penonton harus memiliki pemikiran yang dewasa lah kalo mau nonton film ini biar bisa paham sama pesan yang disuguhkan di film ini, biar nggak salah tafsir aja gitu.


TRAILER


***

Sekian review film Monster (2023) dari saya. Perlu diingat bahwa seluruh isi dari postingan ini sepenuhnya hanya berasal dari opini saya pribadi. Oleh karena itu, jika ada dari kalian yang ingin memberikan tambahan silahkan langsung tulis saja di kolom komentar.

Jangan lupa selalu kunjungi blog ini untuk mendapatkan informasi menarik seputar film dan series favorit lainnya.

Terima kasih.

Dava

Hanya seorang manusia biasa yang hobi nonton film dan main game

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form